90 Tahun GPIB Paulus Jakarta

Warisan yang dirawat, sejarah yang diabadikan.

Buku peringatan 90 tahun GPIB Paulus, dahulu bernama De Nassau-Kerk, hadir sebagai jejak sejarah dan iman yang terus bertumbuh.

Menara Gereja GPIB Paulus, dahulu bernama Nassau-Kerk
Halaman dan lingkungan gedung Nassau-Kerk dilihat dari kejauhan
Halaman gedung Nassau-Kerk beserta lingkungannya, dipotret pada masa awal berdirinya.
Gedung Nassau-Kerk pada masa awal berdirinya
Gedung Nassau-Kerk, tak lama setelah selesai dibangun.
Liputan surat kabar De Locomotief, 10 Juni 1936, tentang penyerahan gedung Nassaukerk
De Locomotief, 10 Juni 1936.

Nama yang kembali disebut

De Nassau-Kerk adalah nama asli gedung Gereja GPIB Paulus saat pertama kali berdiri pada tahun 1936. Nama ini diambil dari gelar kehormatan Pangeran Maurits van Nassau, tokoh penting dalam sejarah Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, nama tersebut resmi diubah menjadi Gereja Paulus pada 31 Oktober 1948, bertepatan dengan peresmian GPIB.

Buku ini menghidupkan kembali nama De Nassau-Kerk sebagai penghormatan pada akar sejarah, sekaligus merayakan 90 tahun perjalanan iman yang telah bertumbuh menjadi GPIB Paulus yang kita kenal hari ini.

Lonceng gereja dengan inskripsi Sursum Corda, tergantung di menara

Sursum Corda

“Angkatlah hatimu.” Begitu bunyi inskripsi pada lonceng yang masih tergantung di menara, mengiringi ibadah jemaat GPIB Paulus selama puluhan tahun.

Fakta Sejarah

Lima kisah yang jarang diketahui

Di balik kemegahan 90 tahun GPIB Paulus, tersimpan cerita yang tak banyak orang tahu.

  1. I

    Dibangun murni oleh jemaat

    Gedung ini mulai dibangun saat Hindia Belanda dihantam krisis ekonomi global pada awal 1930-an. Pembangunannya terwujud murni dari dana patungan jemaat sendiri, tanpa subsidi pemerintah.

  2. II

    Pernah "menyamar" jadi gedung cokelat

    Bangunan putih yang kita kenal sekarang pernah berganti warna. Pada masa pendudukan Jepang, tembok luar gereja sengaja dicat cokelat sebagai kamuflase dari pesawat pengebom Sekutu.

  3. III

    Organ pipa yang tak pernah berbunyi

    Pada 1950-an, gereja mendatangkan organ pipa dari Sukabumi, namun tak ada ahli yang bisa memainkannya. Selama bertahun-tahun, ibadah diiringi harmonium yang suaranya sering dikira berasal dari organ pipa raksasa itu.

  4. IV

    Misteri cawan perak yang hilang

    Gereja Paulus pernah menyimpan cawan perjamuan perak peninggalan Gubernur Jenderal Johannes Camphuys, yang wafat pada 1695. Artefak tak ternilai ini dicuri pada 2013 dan jejaknya belum ditemukan.

  5. V

    Titik nol lahirnya GPIB

    Gedung ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi lahirnya Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat. Nama Nassaukerk resmi diubah menjadi Gereja Paulus pada 31 Oktober 1948, bertepatan dengan peresmian GPIB.

Edisi kolektor terbatas

Sampul kain krem berlapis emas, dijilid teknik Swiss, 250 eksemplar.

Sampul buku De Nassau-Kerk, kain krem dengan cetak emas
250

Eksemplar tercetak, tidak akan dicetak ulang.

Hardcover

Sampul kain dengan cetak emas, dijilid dengan teknik Swiss.

Kertas khusus

Fancy paper dengan teknik cetak khusus.

Pre-order buku

Dana dari penjualan buku akan menunjang program pelayanan GPIB Paulus Jakarta.

1

Transfer

Transfer ke rekening BCA di samping sesuai kode unik.

2

Kirim bukti

Kirim bukti transfer melalui WhatsApp ke nomor contact person.

3

Terima buku

Buku dikirim atau diambil sesuai jadwal yang diinformasikan.

Rp250.000 per eksemplar

Rekening pembayaran

a.n. GPIB Paulus

Tambahkan kode unik “90” pada 2 digit terakhir transfer. Contoh: Rp250,090.

Pre-Order Buku

Karya tim penyusun sejarah GPIB Paulus

Ketua
John Pattiwael
Anggota
Jonathan Wibowo, Marietje Wowor, Lendy Sumual, Joyce Rumokoy
Editor
Christopher